Sudah lama ingin menulis, akhirnya terwujud juga. Saya ingin menulis tentang buku yang sempat heboh beberapa waktu lalu, The Secret. What..?! Sudah basi dong! Eitss... tunggu dulu... Saya tidak bermaksud untuk membedah buku karena saya bukan ahlinya, hanya ingin berbagi opini (sejak lama) mengenai buku ini. Saya merekomendasikannya kepada teman-teman, rata-rata memberi tanggapan positif. Namun ada juga seorang teman yang mengatakan isi buku ini sesat, ouch... saya tidak akan menghubung-hubungkan tulisan ini dengan persepsi agama, apalagi mencari sensasi ajang debat. Sama sekali tidak. Tulisan ini hanya berdasarkan sudut pandang saya sebagai salah seorang pembaca. Setiap orang berhak memiliki pendapatnya masing-masing, dan buat saya The Secret adalah buku motivator terbaik yang pernah kubaca.
Awal perkenalan saya dengan The Secret adalah saat menyaksikan The Oprah Winfrey Show. Saya kurang memahami pembahasan mereka saat itu, tetapi lumayan membuat penasaran. Tak lama berselang buku Rhonda Byrne ini beredar juga di Gramedia. Adik saya yang bertugas di perpustakaan kampus secara surprise meminjamkannya kepada saya (padahal saya tidak tahu ada masuk buku baru di sana).
Mungkin sebagian besar sudah tahu, The Secret mengungkapkan bahwa pikiran mewujud dengan satu daya, yaitu Hukum Tarik-Menarik. "... kemiripan menarik kemiripan. Jadi, ketika Anda memikirkan suatu pikiran, Anda juga menarik pikiran-pikiran serupa ke diri Anda." (hal.29). Saya seperti disadarkan, betapa selama ini hal-hal negatif dibiarkan menguasai pikiran saya. Setiap kata-kata penolakan yang saya ucapkan, seperti "Saya tidak ingin sakit," justru gambaran yang muncul di benak adalah kondisi saya yang sedang sakit. Tentu akan lebih baik jika saya berkata, "Saya sangat sehat." Ternyata lebih mudah memikirkan hal-hal negatif yang mengkhawatirkan dibandingkan hal positif. Jika tidak percaya, coba survei diri Anda sendiri.
Tiga alat yang diajarkan dalam The Secret : Ask, Believe, Receive. Ketiga kata-kata ini saya tempelkan di kamar supaya saya bisa tetap diingatkan ke arah yang positif dan fokus dengan impian yang dituju, yakni menciptakan masa depan saya. Untuk lebih jelas silakan baca langsung bukunya.
Ada banyak pelajaran berharga yang bisa saya dapatkan dari buku ini. Misalnya, kita jangan menanamkan rasa iri kepada orang lain. Semakin iri semakin banyak hal yang bisa ditunjukkan oleh orang tersebut, yang jelas membuat kita jealous. Iri hati, rasa tidak puas adalah emosi-emosi negatif yang akan menghambat datangnya hal-hal baik. "... Anda tidak dapat melukai orang lain dengan pikiran Anda, Anda hanya melukai diri Anda sendiri. Jika Anda memikirkan pikiran-pikiran cinta, tebak siapa yang menerima manfaatnya-Anda!" (hal.45). The Secret juga mengajarkan untuk selalu bersyukur dalam hidup karena perasaan syukur akan mendatangkan segala kebaikan. Intinya dengan bersyukur akan membuat kita merasa lebih baik.
The Secret mengajarkan hal bijaksana tentang finansial. Mungkin ada sebagian pendapat yang menyatakan bahwa uang adalah sumber kejahatan. Tidak bisa dipungkiri bahwa hidup memang membutuhkan uang, namun kita juga hendaknya tidak bersikap negatif terhadap uang. Teman saya pernah mengatakan banyak kasus orang sakit yang tidak tertolong hanya karena ketidakmampuan finansial. Bukan karena derita penyakit yang tak ada obatnya, tetapi karena tidak ada uang untuk berobat. Saya setuju dengan pendapat ini. Sah-sah saja bila semua orang mendambakan kelimpahan dalam hidup selama itu halal. Bukankah ada banyak hal baik yang bisa dilakukan jika kita memiliki uang lebih, misalnya pendidikan yang lebih tinggi, jaminan kesehatan, atau bahkan membantu sesama yang membutuhkan. Selama saya mengerdilkan pikiran dengan kata-kata "tidak mampu", "tidak punya", "tidak mungkin", maka secara tidak sadar saya telah menghambat datangnya uang itu kepada saya karena demikianlah yang telah ditanamkan di benak saya. Mengubah cara pandang terhadap uang, itulah yang harus dilakukan. Maksud saya, kita memang harus menarik kelimpahan dalam hidup ini, tetapi tolong jangan disalahartikan sebagai mendewakan uang itu sendiri.
"... berharap pasangan saya menunjukkan kecantikan saya kepada saya karena saya tidak melihat kecantikan saya sendiri ... Wonder Woman, dan Charlie's Angels. Mereka memang cantik, tetapi tidak mirip dengan saya. Baru ketika saya jatuh cinta pada Lisa-saya jatuh cinta pada kulit cokelat saya, bibir penuh saya, pinggul besar saya, rambut hitam keriting saya-baru setelah itulah seluruh dunia bisa jatuh cinta pada saya," (Lisa Nichols, hal.141). Kata-kata ini sangat berkesan bagi saya. Membuat saya merenung kembali, entah sejak kapan dan tanpa sadar telah membenci diri sendiri. Membenci semua kekurangan yang sepertinya tidak bisa diubah lagi hingga pasrah menerima kekurangan itu sebagai nasib. Semua karena saya tidak bisa melihat kelebihan saya sendiri. Aneh, kalau saya saja tidak mencintai diri saya sendiri, bagaimana mungkin orang lain akan menghargai atau mencintai saya? Saya harus belajar mencintai diri sendiri sehingga dunia akan melihat saya secara berbeda.
Saya sharing sedikit pengalaman saya. Mungkin sebagian dari Anda pernah atau sedang mengalami "derita" akibat si jerawat. Nah, itu adalah masa lalu saya. Dulu saya sangat tersiksa dengan problem ini. Sejak SMP sampai dewasa, muka anak cowok malah lebih mulus daripada saya. Tak jarang menjadi bahan olokan guru Biologi di sekolah. Bahkan orang yang tak dikenalpun ikut-ikutan berkomentar, "Jerawat kamu parah ya," atau "Coba pakai obat ini, bagus lho," Dan selalu ditawarkan oleh pramuniaga toko kecantikan produk obat jerawat terampuhnya (tanpa saya minta!). Oh..no! Saya tahu Anda bermaksud baik, tetapi kata-kata itu bagaikan panah yang ditembakkan tepat ke sasaran. Tidak terhitung sudah berapa banyak uang yang saya investasikan ke wajah ini. Dari tradisional sampai modern, dari alternatif sampai medis. Memaksa diri untuk menahan selera dengan berpantang makan ini dan itu. Yang ada sembuh sebentar, lalu kambuh lagi. Saya seperti paranoid, takut memandang pantulan wajah saya di kaca pintu mall, kaca spion ataupun jendela toko orang. Jangan harap saya akan nyaman berada di salon karena bisa dibayangkan ukuran cermin yang akan dihadapkan kepada saya. Sepertinya cermin di rumahku lebih ramah.
Saat saya selesai membaca The Secret, saya putuskan bahwa hal utama yang harus saya lakukan adalah belajar menyukai diri sendiri. Saya berusaha membuang semua hal negatif yang selama ini saya tabalkan ke dalam diri saya. Saya perhatikan semua lotion yang tersimpan di lemari dan bertanya-tanya, sampai kapan saya harus menjadi budak obat jerawat ini? Sudah saatnya saya menghentikan semuanya. Saya bercermin dan memupuk keyakinan bahwa wajah saya baik-baik saja. Awalnya memang sangat susah, membayangkan wajah yang tanpa cela setelah sekian tahun bermasalah dan mempercayainya seolah-olah itu benar, saya bahkan sudah lupa bagaimana rasanya mempunyai kulit halus seperti bayi. Saya tempelkan foto model berkulit halus di kamar saya. Setiap saya mengalami kesulitan untuk meyakinkan diri sendiri, saya pandangi foto itu dan membayangkan bahwa pemilik kulit halus itu adalah saya. Segala macam obat jerawat saya tinggalkan. Saya biarkan kulit saya bernapas tanpa polesan selama beberapa minggu. Untuk mengusir keraguan, saya membeli pembersih muka tanpa satupun tulisan acne di labelnya. Saya benar-benar menghindari segala produk demikian karena membuat saya merasakan kehadirannya di wajah saya. Mulai menikmati semua makanan yang sebelumnya saya yakini bertanggung jawab atas kemunculan jerawat dan menepis perasaan bersalah saat menelannya sejauh mungkin. Saya terapkan metode ini setiap hari sampai sekarang dan jerih payah saya benar-benar berhasil. Saya tidak mengatakan bahwa kulit saya seperti bayi, tetapi jauh lebih baik daripada dulu. Pendapat saya, jerawat semakin dirawat semakin gawat. Bukan berarti Anda tidak boleh melakukan perawatan untuk memanjakan diri Anda (saya sendiri juga suka melakukannya), tetapi berhentilah mengkhawatirkan secara berlebihan jerawat yang menjengkelkan itu. Anda mencurahkan energi yang terlalu besar untuknya. Yang paling penting adalah bagaimana Anda merasa nyaman dengan diri Anda sendiri. Teman lama saya mengatakan bahwa saya semakin oke sekarang. Yup.. bagi saya ini adalah sebuah penghargaan.
Anda bisa menggali cara-cara yang sesuai dan nyaman untuk Anda terapkan. Memang tidak instan, tetapi seiring waktu Anda bahkan tidak akan sadar bahwa Anda sudah menerima hasilnya. Demikian juga rahasia untuk kesehatan. Menurut The Secret penyembuhan melalui pikiran dapat bekerja selaras dengan obat-obatan. Ada kisah yang sangat menginspirasi di sini, yaitu kisah Cathy Goodman (hal.151) yang sembuh dari kanker dan Morris Goodman (hal.161) yang selamat dari kelumpuhan total. Saya tertarik dengan efek plasebo yang dijelaskan oleh Dr. John Demartini. Ia menjelaskan bahwa Plasebo adalah sesuatu yang sebenarnya tidak berdampak atau berefek pada tubuh, semisal tablet gula. Jika kita katakan kepada pasien bahwa tablet tersebut sama efektifnya dengan obat yang dia makan, kadang-kadang plasebo ini nyata berhasil, malah bisa lebih efektif dibandingkan obat yang memang diresepkan untuk menyembuhkan penyakit pasien. Saya teringat dengan kisah Nobita yang mendapat pulpen ajaib dari Doraemon. Nobita yang tidak yakin bisa menyelesaikan ujian dengan baik akhirnya bisa menuntaskan semua soal dengan lancar. Dia mengira pulpen itu benar-benar ajaib, padahal itu hanyalah pulpen biasa. Doraemon sengaja berbohong untuk menumbuhkan rasa percaya diri Nobita. Ternyata pikiran memang berperan besar. Kita harus berpikir untuk diri kita sendiri karena orang lain tidak bisa berpikir untuk kita dan demikian juga sebaliknya. Faktor penting dalam penyembuhan adalah kemauan besar pasien untuk sembuh.
Ada banyak hal menarik yang diungkapkan The Secret, jika saya uraikan di sini akan sangat panjang ceritanya. Menyusul kesuksesan buku ini, para kontributornya menerbitkan buku yang mengusung metodenya masing-masing, tetapi tujuannya sama. Menurut saya, dengan buku The Secret saja sudah cukup jika Anda memahami isinya. Saya sendiri memutuskan untuk membeli agar saya bisa membaca setiap saat saya menginginkannya. Inti dari The Secret adalah apakah kita berani membuat impian yang sebesar-besarnya, dan percaya bahwa kita mampu mewujudkannya. Impian milik semua orang tanpa pengecualian, kita berhak mengharapkan yang terbaik untuk diri kita sendiri. Bukan berarti kita hanya bermimpi, lalu memohon berulang-ulang dan uang tiba-tiba dijatuhkan dari langit. Tetap saja bekerja dan berdoa. Jangan langsung menyalahkan pikiran kita bila mengalami hal buruk karena tidak seharusnya kita berfokus terus di sana. Mungkin sebagian dari Anda sulit menerima pendapat ini, tetapi selama Anda tidak membuka jendela, maka selamanya Anda hanya menatap dinding yang sama. Bagi saya bermimpi adalah sebuah kebebasan yang dapat dipertanggungjawabkan karena saya berpegang pada apa yang diajarkan dalam kepercayaan saya : malu untuk berbuat jahat (Hiri) dan takut akan akibat perbuatan jahat (Otapa). So.. berikan yang terbaik untuk diri Anda sendiri.
Dare to dream! Are you?
By : Crystal
Foto : Wikipedia
Intip-intip dagangan Ring Sweet Home ya... ^_^














